Abiazmi’s Weblog
Just another WordPress.com weblog

Kemandirian Kyai

Tidak ada bantuanpun jalan

 

Seorang aktivis sebuah partai yang besar  datang ke rumah seorang Kyai . Datang menawarkan bermacam –macam iming-iming. Jika Kyai mengikuti dan mendukung partainya akan diberi hadiah, akan diberi dana uang dan barang yang dibutuhkan oleh pesantren., serta akan diperhatikan jika ada segala program yang berhubungan dengan kepesantrenan.. Pokoknya Kyai  bakal eenak.

Pak Kyai diam sejenak mendengarkannya. Lantas pak Kyai menjawab penawaran aktivis partai itu.: ” Oh ya , terima kasih atas kedatangannya . Saya ucapkan terima kasih .namung sayang, saya tidak bisa mengabulkan permintaan bapak .Saya tidak bisa mendukung salah satu partai dengan terang-terangan , karena saya itu milik semua pendukung partai-partai, saya ada dimana-mana. Saya tidak bisa menyinggung semua pendukung partai. Partai buat saya ”paragi santai”, tempat santai, bukan untuk ketegangan. Ketemu dengan semua partai itu damai, tidak tegang. Saya bisa bersilaturahim dengan partai mana saja. Tidak ada yang curiga partai manapun. Tapi sekalipun demikian, saya tidak akan golput. Saya akan menggunakan hak azasi saya untuk memilih dengan cerdas caleg mana yang pantas menurut saya sebagai wakil rakyat. Sudah barangtentu saya tidak akan memilih caleg yang sudah jelas-jelas telah melakukan korupsi, yang kurang bertanggung jawab, yang tidak peduli kepada kesejahteraan rakyat, yang hanya mementingkan dirinya, golongannya, partainya. Saya ingin memilih caleg yang takut kepada Alloh, yang berorientasi untuk kepentingan dunia dan akhirat. Dan maaf, jika sampeyan mau memberi silahkan, tapi harus ikhlash karena Alloh bukan karena partai, agar kebaikannya ditulis sebagai amal sholeh. Jika tidakpun , nda apa-apa, pesantrenpun akan berjalan seadanya ,tidak akan berhenti .sekalipun tidak diperhatikan oleh partai. Sejak dulupun belum pernah diperhatikan secara husus, tapi alhamdulillah berjalan terus kegiatannaya setiap hari, tidak ada liburnya. Pembangunan berjalan sebagaimana mistinya. Kyai dan ustadznya tidak kelaparan sekalipun bukan pegawai negeri atau tidak mendapat honor yang semestinya., Santrinya tidak ada yang keluar karena miskin /pra sejahtera tidak mampul

Aktivis partai itu, hening  menyimak khutbah pak Kyai. Dia mengira pak Kyai bakal mau dengan berbagai iming-iming itu. Pak Kyai malah  menasehatinya. Dia mengajak jalan –jalan pak Kyai melihat keadaan dan kegiatan pesantren. Pak Kyai menunjukkan semua bangunan yang telah dibangunnya bukan bantuan partai dan bukan bantuan pemerintah. Pesantrennya belum pernah diberi bantuan dari program-program pemerintah, padahal sama-sama mencerdaskan anak bangsa. Sekolah yang dibuat pemerintahpun belum merata kebagian kue pembangunan. Entah berapa ribu anak didik yang telah pernah belajar di pesantrennya dan banyak yang berhasil menjadi warga negara Republik Indonesia yang baik mengabdi untuk kemajuan bangsa ini. Sekalipun demikian pesantrennya tidak pernah berhenti dalam mencerdaskan anak bangsa ini.

Pak kyai memperlihatkan santri usia 4 tahun yang sudah bisa membaca koran dan Qur’an. Pak Aktivis kaget, dan kagum melihat kenyataan seperti itu. Padahal tidak sedikit para aktivis yang belum bisa membaca Al Qur’an. Dan masih banyak  di atas seusianya belum bisa membaca huruf bahkan pemerintahpun memprogramkan pemberantasan buta huruf laten untuk masyarakat, pertanda masih banyak yang buta huruf.

Pak Aktivis bertanya kepada Pak Kyai ”Berapa jumlah guru dan honornya?”

”Gurunya ada 60 orang 70 % sudah menikah, rata-rata jumlah honornya Rp. 300.000. ” jawab Pak Kyai.

Pak  Aktivis kaget lagi. , karena pikir dia , jumlah sebesar itu harga satu kali minuman seorang pelobi di hotel, bahkan harga minuman  lebih dari itu masih ada. atau sama dengan harga 2 buah celana dalamnya. Dia bermimpi seharusnya honornya dan kesejahteraannya  sama dengan  guru PNS yang tanggung jawabnya sama mencerdaskan anak bangsa..

Kedepan pesantrenpun diberi pasilitas yang sama dengan sekolah yang dibuat pemerintah atau  minimal dikasihlah 10% nya dari dana yang diberikannya, jangan tidak sama sekali. Lumayan bisa dimanfaatkan untuk membuat WC-nya, atau alat permainnya, atau alat peraganya, atau buku-buku sumbernya, atau biaya pembinaan gurunya, dsb.

Pemerintah tak usah terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk penseleksian guru PNS , seleksi saja guru honorer yang sudah terbiasa melaksanakan sebagai tugas guru., yang sesuai dengan kreteria diharapkan.

Pak aktivis bahagia telah banyak mendapatkan nasehat dari pak Kyai dan banyak pengetahuan yang diserapnya dari kunjungan silaturahim ke pesantren sekalipun pak Kyai tidak mengamini keinginannya. Dia berharap para pengikut setia pak Kyai mencontrennya nanti tanggal 9 April 2009 karena  para pengikut setia pak Kyai menganggap pak Kyai mendukungnya.

Belum Ada Tanggapan to “Kemandirian Kyai”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: