Abiazmi’s Weblog
Just another WordPress.com weblog

Ketika Kecil di lingkungan Pesantren Asslafiyyah

Ketika Aku Berada di Lingkungan Pesantren Assalafiyyah

A. Masa dengan KH. Sulaeman

Ingat sekali ketika saya masih usia 5-7 tahun, banyak kegiatan pengajian di pesantren Assalafiyyah, selain pengajian rutin setiap hari, ada kegiatan pengajian hari Ahad, pengajian hari Kamis, pengajian hari Jum’at, pengajian malam Jum’at ..

Yang paling berkesan saat pengajian hari Ahad, sebelumnya banyak yang sudah hadir, mulai hari Sabtu, Sabtu malam, Ahad pagi sampai saat kakek (Mama Sulaeman) akan memulai memberikan materinya.

Para mustami yang hadir selain dari warga lingkungan Kecamatan Batujajar, juga banyak yang berasal dari luar daerah, dari Cihampelas, Padalarang, Cimahi, Cililin, Cijenuk, Gununghalu,dsb. bahkan ada yang berasal dari luar kabupaten, dari Garut, Cianjur, Sukabumi, Sumedang dsb.

Mulai hari Sabtu banyak yang dikerjakan oleh para santri, ada yang pergi ke kebun di lingkungan pesantren, yang menanam pohon dan palawija , yang memanen kelapa, pisang, sawo pisitan dsb., yang memelihara tanaman, ada yang pergi ke kebun di luar lingkungan pesantren.

Selain di kebun , ada yang mengerjakan pekerjaan di rumah, seperti memasak, menimba air, mengelupas kelapa, buat pisang sale, dsb. Ada yang menggiling padi atau menggiling kopi di lisung, ada yang membersihkan lingkungan pesantren, mengisi bak masjid , ada yang menyapu dan menggelar hambal di madrasah, ada yang memasang speker dsb.

Ada yang pergi ke pasar menjual barang hasil panen, seperti kopi, kelapa, singkong, kunyit, pisang, lampuyang, sawo, muncang dsb tergantung musim panennya.

Hasil dari sawah yakni padi tidak hanya dijual ke pasar, dijual di rumah langsung dimenejemeni oleh Mama Sulaeman sendiri dan Emi (panggilan untuk istrinya mama) atau dikirim ke rumah-rumah atau ke kantor-kantor yang karyawannya membutuhkan.

Emi , istri Mama Sulaeman, selain itu beliau rajin membuat kueh, gorengan, leupeut dsb. yang dijual keliling ke kampung-kampung oleh putranya , Mualim Udung dibantu oleh beberapa santri.

Sistem keuangannya sangat ketat, semua putra-putranya tidak boleh memakan barang dagangannya kecuali harus dibeli terlebih dahulu. Jika para putranya mau memakannya, maka mereka meminta uangnnya dari Mama , mereka membeli barang dagangan ibunya. Kecuali jika ada sisa dari penjualannya, semua putranya bahkan santrinya dibagi sesuai dengan sisa barang dagangan tersebut. alasannya jika tidak dibagikan akan mubazir , tidak bisa dimakan.
Sistem ini sangat mendidik bagi para putra dan santrinya.

Yang saya ketahui , mengenani pembagian tugas yang diberikan Mama kepada santrinya antara lain ;
1. Mang Iki (Cibunar) bertugas sebagai pemanjat dan mengelupas kelapa
2. Mang Enjoh (Sekeloa)betugas sebagai menanam , memelihara ,memanen dan menggiling kopi, muncang, kunyit, dsb.
3. Mang Oyi (Cikeuyeup) bertugas menanam memelihara dan memanen pisang.
4. Mang Ebi (Warung Pulus) menyapu dan menggelar hambal di madrasah
5. Mang Uway (Galanggang) bertugas membersihkan lingkungan pesantren
6. Mang Ana (Galanggang) bertugas sebagai tukang bangunan
7. Mang Utar (Cihampelas) menjual hasil pertanian
8. Aki maksudi (Cihampelas) dan Mang Ujang (Cihampelas) bertugas di dapur . menjaga hawu dan menyadiakan kayu bakar dan mengisi air bak
9. Mang Dodo (Cihampelas) dan Mang Odih (Babakan) yang memasang pengeras suara.
10. Buya Bedog ,panggilan H. Samsudin ahli pijat
11. Bi Badriah (Citapen),Bi Iting (Warung Pulus) , Bi Uka (Warung Pulus) suka didapur masak untuk keperluan para santri dan tamu-tamu mama.

Ada juga dikerjakan bersama-sama. Biasanya jika ada korpe menyabit rumput, baik dipekarangan maupun di kebun. Bermacam-macam pekerjaan yang dilakukan ketika korpe, ada yang ngored, ada yang membuat lubang untuk sampah dedaunan, dan ada yang mengambil benih pohon pisang. Sampah di kebun dimasukkan ke lubang, lubang yang belum penuh dibiarkan menunggu sampai sampah tersebut buruk, ada yang langsung ditimbun lagi dengan tanah, ada yang langsung ditanami pohon pisang. Sampah plastik langsung dibakar, sampah dedaunan dijadikan pupuk tanaman yang dibuang di pinggir-pinggir pohon.

Setiap hari Ahad banyak pedagang menjajakan dagangannya, kebanyakan dagang kueh seperti kueh cara bikang, bugis, lemper, combro, gegetuk, pisang goreng , krupuk , dsb. dan jualan minuman., seperti cingcau, goyobod, cendol , bandrek dan bajigur.

Mustaminya dari mulai anak hingga orang tua, memenuhi ruang madrasah ukuran 15 m X 8 m.
Setelah kumpul biasanya ibu-ibu nadom , pukul 08.00 pengajian dimulai dengan pembacaan hadiahan dan sholawat yang dipinpin oleh Mang Utar atau Mang Ebi sampai pukul 09.00.
Hadiahan dan pembacaan shalawat selesai diteruskan dengan pengajian kitab kuning oleh Mualim Udung atau Mualim Fahru sampai pukul 10.00.
Terakhir Pengajian yang dibimbing langsung oleh Mama Sulaeman hinggs pukul 11.30. Pengajian selesai diteruskan shalat Dhuhur berjamaah.. Sebelum pulang biasanya semua santri mushafahah dengan Mama diiringi shalawat.
Materi pengajian terusmenerus dihanca hingga tamat, setelah tamat diganti dengan kitab yang kain.
Kitab yang dikajinya ada masalah piqh, tauhid, dan tasauf, sesuai dengan permintaan santrinya/mustaminya.

Namung sayang , setelah Mama Sulaeman wafat kegiatan pengajian semakin berkurang. Kegiatan di pesantren semakin berkurang. Sementara banyak pepohonan semakin besar, di wilayah kota suasana sepi banyak pepohonan besar yang tidak diterurus , seperti suasana di hutan belantara, jika waktu menjelang maghrib yang terdengar, tongeret, jangkrik dan tokek.

Yang paling berkesan, saat menjelang maghrib saya senang menangkap tongeret di kebun di lingkungan pesantren dan mendengarkan suara tokek dari masjid pesantren. Suara tokek sangat keras dan bergema, suaranya bisa didengar radius 200 m. Masyarakat sekitar pesantren tidak asing lagi bila maghrib akan tiba akan terdengar suara tokek dari pesantren.

Apalagi setelah Emi meninggal dunia tahun 1994, kegiatan kepesantren sangat kentara berkurangnya. Yang mengikuti pengajian semakin berkurang. Keadaan ini disebabkan para penerus belum siap dan para putra mama tidak banyak yang meneruskan jejak langkah orang tuanya, kebanyakan para putranya itu masing-masing sibuk dengan pekerjaannya, para santri seniornya banyak yang sudah menikah dan tidak tinggal di pesantren lagi, ada juga yang membuka pesantren di masing-masing tempat tinggalnya.., sibuk dengan kegiatannya meninggalkan semua kegiatan yang biasa dilakukan di pesantren. Pesantren sepi dengan kegiatan. Bertambah bergema suara tokek , tidak yang menyainginya.

B. Massa dengan Mualim U. Djuwaeni

Kemudian pak Mualim Udung terjun meneruskan perjuangan mama Sulaeman
Beliau sejak kecil didik dan dibina oleh mama dengan berbagai ilmu agama. Setelah dewasa ikut menjadi santri di Pesantren Garut, Sumedang dan di Tebuireng. Karena kesempatan dan pengangkatan guru agama di Banten ,beliau mendaftarkan diri menjadi pegawai negeri sipil guru agama mengikuti jejak saudaranya di Pandeglang hingga pensiun dari mantri guru agama atau pengawas guru agama . pada masa pensiunnya di isi dengan berbagai kegiatan mendidk santri di pesantren. Pada awalnya kegiatan mengaji itu bertempat di rumahnya, masih di lingkungan pesantren, yang diselenggrakan pada malam hari. Hari demi hari peminat pengajian bertambah , ruangan rumah nya tidak bisa memuat peserta pengajian. Maka pengajian di pendahkan ke masjid pesantren. Banyak yang berdatangan dari berbagai daerah untuk mendalami kitab kuning. Santri-santrinya selain yang mondok di pesantren ada juga santri kalong, masyarakat yang berada di lingkungan pesantren atau yang tidak mondok. Santri-santri yang mondok waktu mengajinya selain malam juga sehabis shalat shubuh berjama’ah. Karena belum ada kobong santri tidur di masjid, kobong yang pernah dibangun oleh mama sudah lama ruksak dan untuk keamanan dirobohkan. Haji Rojak, santri ketika mama Sulaeman mengasuh pondok, melihat kenyataan seperti itu, merasa iba dan tergerak hatinya untuk membuatkan banguinan asrama untuk santri yang mondok. Atas persetujuan pak Mualim Udung Djuwaerni dan dorongan dari Haji Ana dan santrinya , maka pak Haji Rojak membangun asrama putra dengan biaya ditanggungnys sendiri . arsitek bangunan asrama tu pak haji Ana, yang mengerjakannya para santri yang dibimbing langsung oleh haji Ana dan Mualim Udung Djuwaeni. Dalam waktu singkat pembangunan asrama putra selesai dengan sangat sederhana da hasil kerja jerih payah para santrinya. Haji Ana, santri Mama Sulaeman yang terus menerus aktif mengikuti pengajian hari Kemis dan hari Ahad. Pak Mualim Udung, Haji Rozak, dan Haji Ana memanfaatkan tenaga santri itu dengan tujuan sama, yakni agar kelak para santri sehabis ngaji di pesantren dapat bekal ilmu bangunan yang selanjutnya diharapkan para santri mempunyai pekerjaan sebagai usaha mencari nafkah. Mang Amung, Mang II dan Mang Ahmad adalah diantara santri yang berhasil memahami ilmu bangunan, sehingga sampai sekarang ketiga santri tersebut sering digunakan oleh masyarakatnya sebagai tukan bangunan. Santri-santri tersebut sangat dipercaya oleh masyarakatnya dan perusahaan yang hendak membangun. Jika ada kosong pekerjaan mereka mengikuti pekerjaan bangunan ke Jakarta, Sumatra. Kalimantan, Bali dsb.
dulu sebelum ajengannya hadir.

C. Massa dengan Mualim Fahru

Melihat kenyataan yang ada, sebagai cucu Mama Sulaeman , saya terpanggil untuk aktif mengelola pesantren. Apa yang bisa saya perbuat untk mengembalikan kejayaan Pesantren Assalafiyyah seperti tempo dulu di masa KH. Sulaeman.
Setelah Mualim Udung wafat, pesantren diserahkan untuk pengelolaannya kepada Mualim Fahru.
Mualim Fahru adalah salah satu putra Mama Sulaeman yang nomor lima. Beliau sangat disayangi oleh Mama.
Sejak kecil mengaji di pesantren ayahnya. Jika mau berangkat ke sekolah Mama mensyaratkan kepada beliau untuk menalar al fiyah minimal dua bait setiap harinya . Dengan cara demikian , maka dalam waktu singkat alfiyah dapat dihafal di luar kepala.
Pada masa remaja pernah mengikuti pengajian di pesantren Cilenga Singaparna.
Dilanjutkan di pesantren ayahnya , sambil membantu mengajar santri diniyyah yang waktunya sore hari. Salah satu santrinya adalah yang sekarang menjadi istrinya yakni Hj. Siti Sarha.
Hj. Siti Sarha itu putra dari O. Sastramiharja , seorang Komis (Kepala Kantor Pos ) Batujajar . Beliau menikah dengan Mualim Fahru pada tahun 1946.
Pada waktu itu datang tentara westerling untuk menjajah rakyat Republik Indonesia. Terjadilah kekacauan antara tentara Westerling dan masyarakat. Tentara Westerling sangat kejam terhadap rakyat , semua rakyat takut atas kehadirannya. Karena tidak merasa aman tinggal di daerahnya, maka masyarakat banyak mengungsi, termasuk keluarga Mama Sulaeman, diantaranya pasangan penganten yang baru menikah tujuh hari harus rela pergi meninggalkan rumahnya untuk evakuasi ke tempat yang aman.
Daerah yang pertama dituju adalah Citapen . Sampai ke Citapen dengan berjalan kaki dan menyebrangi sungai Citarum membawa segala keperluan yang dibutuhkan yang bisa dibawa dengan cara dipikul dan masing-masing orang membawa barang bawaan, tidak terkecuali. Dalam satu pikulan ada dua beban , satu beban barang dan beban yang lainnya terkadang ada orang yang masih kecil atau orang yang sedang sakit. Seperti halnya pada rombongan keluarga Mama Sulaeman , ada beberapa pikulan, ada beras dengan kitab, ada beras dengan orang sakit. Kebetulan , dari keluarga Mama ada dua orang putranya yang sakit, yakni Atang Ruswita dan Lili Sadeli. Apa boleh buat keduanya harus dibawa mengungsi sekalipun sedang dalam keadaan sakit berat.
Semua rombongan diterima dengan penuh kegembiraan oleh masyarakat Citapen. Terutama ketika mereka tahu bahwa kepala rombongannya itu Mama Sulaeman. Oleh kepala kampungnya setiap keluarganya dititipkan ke masing-masing rumah penduduk. Para pengungsi menyebar mendiami rumah penduduk. Keluarga Mama Sulaeman diberi satu rumah yag besar yang pemiliknya mengalah ikut dengan putranya.
Di saat waktu-waktu senggang para pengungsi dan penduduk berbaur semuanya mengikuti pengajian yang diadakan di tempat Mama Sulaeman, ada yang sorogan kitab, ada yang hanya belajar membaca Al Qur’an, atau ada yang hanya mendengarkan saat Mama memberikan taushiyah atau saat berbincang-bincang membahas segala masalah agama yang sesuai dengan pertanyaan yang disampaikan oleh mustami, atau yang meloghat kitabnya yang masih kosong, dxb. Dengan demikian, maka hiduplah kegiatan pengajian di tempat pengungsian . Kegiatan tersebut membuat penduduk dan para pengungsi kerasan, sekalipun masih tetap dibayangi ancaman bom atau peluru nyasar.
Nampaknya westerling mengetahui ada banyak pengungsi di tempat itu, mereka sering membayangi dan mengintai dengan kapal terbangnya ke daerah tersebut.
Intensitas pengintaian semakin ditingkatkan untuk mentelor penduduk dan para pengungsi. Untuk menjaga keamanan bersama , para pengungsi berpindah tempat lagi ke daerah yang diperkirakan aman .
Dari daerah Citepen, rombongan Mama Sulaeman pergi menuju ke daerah lembang , daerah pegunugan , berbukit melalui jalan setapak, mengitari semak belukar, hutan belantara banyak jalan yang terjal yang harus dilalui sampai di Gunung Gedugan. Di tempat ini kebetulan ada tempat ziarah. Di tempat inilah mereka sementara tinggal.
Dari daerah Lembang rombongan berpindah ke daerah Ciririp Cililin.
Setelah ada kabar , bahwa daerah Batujajar kini sudah aman, Westerling tidak terlalu brutal seperti semula. Maka rombongan pulang kembali ke tempat semula , ke kediamannya masing-masing.
Alhamdulillah tempat yang ditinggalkan tidak banyak berubah, tidak seperti tempat-tempat yang lain, banyak yang diubrak abrik , banyak yang dihancurkan dan dibakar. Ternyata keadaannya seperti itu berkat kerja sama dengan pak Tari. Beliau adalah karyawan yang kerja di asrama, tempat westerling bermarkas. Semula westerling akan membakar komplek pesantren, karena pak Tari mengusulkan kepada komandannya , agar tempat pesantren itu tidak jadi dibakar ,dengan alasan pak Tari kepada komandannya itu bahwa, pemiliknya adalah masih saudaranya.

Pada masa awal pengelolaannya diadakan pengajian anak-anak yang pada masa /mualim Udung pengajian anak-anak tidak ada. Memang itu pembagian tugas, di kaler , di rumah Mualim Fahru pengajian anak-anak dan remaja dan di kidul di pesantren pengajian pemuda atau santri dewasa. Di kaler lebih dominan belajar membaca Al Qur’an yang diasuh oleh Siti Sarha, tapi ada sebagian kecil yang mengkaji kitab kuning seperti Ahlaqul libanain, safinah, jurumiyah, tijan, arbain, nahul wadhih, matan bina dsb. Materi yang diajarkan di Pesantren kitab alfiyah, tafsir jalalen, mukhtarul Hadits, jubab, riyadhushshalihin, kifayatul akhyar, sulam taufiq, imriti, yaqulu, taqrib, syu’bul iman, dsb.
Pada perkembangannya, diadakan Taman Pendidikan Al Qur’an pada waktu siang sampai pukul 17.30. TPQ ini didirikan oleh Drs. Sulaeman, Entis Sutisna, dan Eulis Eni Rohaeni S.Pd.I. atas bimbingan KH. Fahrudin dan Ust. Abdul Aziz (kang Agus) sebagai direkturnya adalah Drs. A. Sulaeman, para ustadznya santri-santr kalong dan ibu-ibu pengajian majlis ta’lim yang diasuh oleh Hj. Siti Sarha .
Ba’da Maghrib pengajian Diniyyah awaliyah yang kepala madrasahnya adalah ustad Hilman, para ustadznya para santri yang mondok di pesantren.
Pada perkembangan selanjutnya, lahir Raudhathul Athfal (RA) pendidikan pra sekolah.RA didrikan atas inisiatif Drs. A. Sulaeman, Eulis Eni Rohaeni S.Pd.I, dan Ani Mulayani, yang sebagai Kepala Sekolahnya Eulis Eni Rohaeni S.Pd.I.
Selain kegiatan TPQ, MDA dan RA juga sering diadakan Pesantren Kilat Awal Mula (SIAM) yang diikuti oleh siswa-siswa SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.Pesantren Kilat ini dibimbing oleh Mang Dadan .
Dari kegiatan Pesantren Kilat ini berkembang ada keiginan untuk mendirikan SMP dan Kopontren. Alhamdulillah atas bantuan mahasiswa IKOPIN Usep Mulyana dan Bibing CS , pesantren Assalafiyyah mempunyai Badan Hukum /Akta Koprasi yang bernama KOPONTREN ASSALAFIYYAH. Dan atas dorongan dari gabungan mahasiswa IKOPIN, UNPAD, IAIN, IKIP berdiri Yayasan Assalafiyyah. Semula yayasan tersebut akan didirikan oleh mereka, karena dari pihak keluarga tidak menyetujui maka pendirian yayasan akan diurus oleh keluarga. Dengan segala keterbatasan , kesibukan dan alasan lainnya, maka berdiri Yayasan Assalafiyyah dengan dicantumkan sebagai pendiri ialah Drs. Ade Sulaeman, Atang Ruswita, Tjetje Padmadinata, Deni Kahdar Gunadi, H.Mukhtar, Suhaebi, dan Sarif Aripin . Pada saat itu para pendiri tidak bisa hadir untuk menandatangi Akta kecuali Drs. Ade Sulaeman yang sekaligus mewakili para pendiri.
Selain akte yayasan, juga diperlukan akte waqaf. Akte waqaf dipandang perlu untuk segera diselesaikan agar tidak ada persoalan di kemudian hari, terutama mengenai kepemilikan tanah pesantren. Ada sas sus yang terdengar bahwa tanah pesantren itu tanah warisan ahli waris KH. Sulaeman, padahal tanah pesantren itu tanah waqaf dari H, Safari. Tanah waqaf yang diberikan oleh H. Safari kepada Mama Sulaeman itu ada dua bidang tanah yakni tanah yang digunakan untuk pesantren dan tanah sawah yang hasilnya diperuntukkan para pengurus atau pengelolan pesantren. Adapun pada sertifikat itu tertera Atang Ruswita dengan garis ”coret”
Itu bukan bearti tanah tersebut semulanya milik Atang Ruswita, tetapi saat mengurus akte waqaf dan sertifikat waqaf ada persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya ada bukti kepemilikan tanah dan ada yang mewaqafkan. Kepemilikan tanah itu tertera dalam blangko tanah/kikitir milik KH. Sulaeman. KH. Sulaeman telah wafat sejak tahun 1971 , akte dan sertifikat waqaf dibuat tahun 1993, untuk itu maka musyawarah para ahli waris memilih siapa yang akan mewakili KH.Sulaeman sebagai pemilik tanah dan wakif. Pada musyawarah tersebut dipilih Atang Ruswita sebagai perwakilan dari ahli waris,
untuk atas nama KH. Sulaeman pemilik tanah dan waqif . Maka dibuatlah pernyataan tersebut di atas kertas segel ditandatangani oleh semua ahli waris KH. Sulaeman , yakni Hj. Maskiyah, Fahru, Hj. Djuweriah,Eulis Rohmah, Atang Ruswita dan Siti Jubaedah dan diketahui oleh Kepala Desa Batujajar Barat , H. Endang Suhaya.
Pada perkembangan selanjutnya, tanah waqaf yang berbentuk sawah itu kena ”jalur” dibeli untuk keperluan pabrik, hasil dari penjualan tanah waqaf tersebut dibelikan tanah di Cianjur. Setelah beberapa tahun kemudian Tanah di Cianjur dijual dan dibelikan lagi tanah di Cipangeran Batujajar .
Selain itu, tanah waqaf yang terletak di pesantren kl. 40 m2 dijual kepada masyarakat RW VII untuk pelebaran jalan , hasil penjualannya digunakan untuk menambah biaya pembangunan masjid di Padalarang yang dikelola oleh Nandang Ubaidilah.
Pada tahun 2005 , Atang Ruswita saat terbaring sakit di rumah sakit berpesan kepada semua keluarganya,”Tanah warisan dari KH. Sulaeman yang di Batujajar
,baik yang di kaler maupun di kidul semuanya diberikan saja kepada pesantren agar dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan”. Ceritera ini dikemukan oleh putranya yang paling besar , Januar Primadi, saat acara ziarah ke makam Atang Ruswita dan silaturahim Keluarga Besar Pikiran Rakyat dengan Keluarga Besar Pesantren Assalafiyyah , hari Senin, 23 Maret 2009 pkl. 11.00.
Tanah warisan beliau dari ayahnya (KH. Sulaeman) itu ada dua tempat, yakni pertama yang terletak di Blok Pesantren (kaler) yang kedua terletak di Blok Batujajar (kidul)
Untuk memenuhi janjinya, maka pihak keluarga mewakafkannya kepada Yayasan Pesantren Assalafiyyah Batujajar.
Adapun tanah waqaf dari beliau yang sudah disertifikatkan baru 893m2 yang terletak di Blok Pesantren ,Batujajar Barat, Kec. Batujajar , Kab. Bandung Barat, yang berdekatan dengan tanah waqaf pesantren dari KH. Sulaeman.
Januar Primadi
Pada rapat pengurus yayasan pesantren Assalafiyyah pada tanggal 1 Maret di JL. Patuha Bandung, di rumahnya Sonny Arief, Januar Primadi mengemukakan bahwa tanah wakaf yang di kidul akan diposisikan sebagai komplek pesantren tradisional dan tanah waqaf yang di kaler sebagai tempat pendidikan umum.

Belum Ada Tanggapan to “Ketika Kecil di lingkungan Pesantren Asslafiyyah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: