Abiazmi’s Weblog
Just another WordPress.com weblog

Yang Penting Hari Bisa Makan

Ada    tukang beca, tukang sol, tukang rokok asongan berkumpul  asyik mengobrol ngaler ngidul, sesekali melihat lululalang berseriweran mobil para pejabat , para pengusaha, angkutan umum, motor buatan jepang, dan para pejalan kaki.

Tukang beca nyeletuk, :” Enak, ya,   jadi  pejabat, gajih besar, mobil inventaris  dikasih  dengan supirnya, belum uang jabatan, uang amplop dari berbagai meja, belum peluang korupsi  banyak. Sedang kita, gajih tidak ada, mobil tidak dikasih, yang ngasih amplop   tidak ada, yang bisa dikorupsi apa, tidak ada.  Adapun kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi, belum untuk beli beras, beli lauk pauk, jajan anak sekolah   dan uang untuk berbagai tugasnya, uang bulanannya, belum ongkosnya. Sementara penghasilan sudah  siang begini baru dapat Rp. 10.000., baru bisa untuk beli beras, muatan semakin siang sudah sepi, apalagi sekarang banyak yang punya motor, mudah untuk ngeridit.

Tukang sol nimrung :” Kamu sudah Rp.10.000, saya baru dapat Rp. 5000, untuk beli beras saja masih belum cukup, apalagi untuk yang lain. Kalau yang di rumah tidak tahu apa-apa, mereka inginnya ada saja semua yang dibutuhkan, mereka tidak tahu , bagaimana kondisi yang sebenarnya di lapangan. Apalagi anak yang masih kecil, setiap harinya Rp. 5000 , hanya un tuk jajannya, tidak dikasih ,   mewek.  Makanya, mudah-mudahan saja yang punya sepatu mudah ruksak, agar banyak yang ngesol ke saya.

Tukang rokok tidak mau ketinggalan, ikut bercuap :”  Mending, kamu mah dari pagi sambil menunggu konsumen itu bisa sambil duduk. Saya tidak bisa sambil duduk , harus terus menerus jalan-jalan menawarkan rokoknya langsung ke  konsumen. Kaki ini teras pegel, keuntungan tidak seberapa, kebanyakan yang beli teh satu  batang dua batang, laku baru tiga bungkus. Satu bungkus 12  batang kali 3  kali Rp. 100  , berarti baru dapat keuntungannya  itu Rp.  3600 , belum tadi dua batang sudah diroko oleh saya. Adapun kondisi di rumah sama dengan kamu-kamu. Apa boleh buat, memang ini kenyataannya.  Beginilah nasib orang kecil  mah.

Itulah sekilas gambaran kondisi yang ada. Mereka kini akrab dengan para rentenir. Para rentenirlah yang setia membantu untuk menutupi kebutuhannya, sekalipun banyak resiko. Resiko  bunga besar, dituntut harus tepat waktu, kalau tidak kena denda. Tapi mereka senang, bagaimana nanti saja, yang penting hari ini bisa makan, kalau habis modal pinjam lagi pada rentenir yang lain.  Kalau ada uang bayar, kalau tidak ada biarlah didenda juga, ya kalau terdesak  jual  saja  barang ada di rumah, asal tidak menjual anak istri saja, dari pada mencuri. Adapun anak-anak mau sekolah mau tidak sekolah bagaimana baik saja. Memang , kalau sudah begini ,  apa boleh b uat bagi mereka. Habis, pemerintah kurang cermat menyantuni mereka.

Kondisi seperti ini, tidak menutup kemungkinan mereka akan mudah  berontak, mudah tersulut  jika melihat ketidak adilan , apalagi jika ketidak adilan itu terus menerus ditontonkan oleh para pelaku ketidakadilan.

Sekalipun itu, semoga mereka diberi kesabaran dalam mengarungi kehidupan ini. Amiin.

Mau pulang

Belum Ada Tanggapan to “Yang Penting Hari Bisa Makan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: