Abiazmi’s Weblog
Just another WordPress.com weblog

Yang Miskin yang Dermawan

Namanya Hudaya, sudah menikah 20 tahun belum punya pekerjaan yang tetap, waktunya lebih banyak merasakan tidak banyak uang, padahal banyak kebutuhannya untuk memenuhi kewajibannya sebagai kepala keluarga. Bahkan dia sering kewalahan mendapatkan cibiran dari istrinya dan anaknya sebanyak empat orang yang membutuhkan uang. Apa boleh buat, kalau benar-benar tidak ada, tidak punya.

Ada uang ,ada juga yang iseng meminta bantuan, untuk meminjamkan uangnya. Sekalipun miskin, tetap dia dermawan. Uang dua puluh ribu rupiah sering dibagi dua, sepuluh ribu untuk keluarganya, sepuluh ribu rupiah lagi untuk dipinjamkan. Setiap akan ditagih, sebelumnya yang punya pinjaman minta ditambah lagi jadi dua puluh ribu rupiah. Alasannya tanggung sepuluh ribu rupiah , sementara tidak punya ,tapi masih membutuhkan uang untuk membeli obat. Ketika mau ditagih utangnya dua puluh ribu rupiah, e.. yang punya utang itu meninggal. Bahkan istri yang punya utang itu menyuruhnya mengurusi harta almarhum yang dipinjam pak haji pailit. Haji pailit itu telah hmpir dua tahun meminjam uang almarhum. Setiap ditagih haji pailit tidak saja membayar , alasannya belum punya, padahal hartanya banyak. Pak haji pailit yang kaya punya utang kepada dhuafa yang miskin.
Hudaya datang ke haji pailit dengan berbagai argumentasinya, baru haji pailit itu mau membayarnya. Tidak tahu alasannya dia mau membayar, apakah karena dia takut keburu mati seperti yang telah meminjamkan uang, atau karena kasihan dan malu kepada hudaya yang miskin dan istri almarhum yang fakir, yang banyak anaknya, yang tidak masuk anggota KB.

Istri almarhum bahagia, ada uang untuk berobat. Sebagai tanda terima kasih dia menyerahkan amplop yang ada uangnya kepada Hudaya, tapi hudaya tidak mau menerimanya, alasannya ingin membantu kebutuhan berobat istri almarhum dan biaya sehari-hari anak-anak yatim, sekalipun Hudayapun butuh untuk memenuhi kebutuhan keluarganya

Hudaya miskin tapi dermawan. Ada orang yang datang meminta bantuannya untuk meminjam uang dari batak atas namanya. Hudaya tidak ada perasaan curiga sedikitpun, dia betul-betul niatnya ingin menolong temannya yang butuh uang untuk membayar kontrakkan. Ternyata temannya yang berjanji akan menyicil tiap harinya itu tidak mau membayar, dialah yang jadi sasaran tagih batak. Karena terkadang ada, terkadang tidak ada, dia sering ditegor batak dan bunganya berbunga. Dasar!!!???

Pernah istri Hudaya dapat arisan, ada juga yang datang meminjam uangnya. Semula tidak diberikan , tapi karena yang meminjamnya bekas istri perwira , ada hubungan kerabat/saudara dekat, juga suaminya mengizinkan, uang arisan itu diambil oleh janda perwira , yang mempunyai anak yang kerjanya di pelayaran, yang gajihnya ratusan juta. Sekalipun demikian. ternyata janda perwira itu belum pernah membayar, padahal janjinya dua – tiga hari.

Subhanalloh, orang miskin dermawan. Lantas dipakai apa uang yang banyak tersebut? Dipakai poya-poya. Jika itu berarti bersenang-senang di atas penderitaan orang miskin.

Belum Ada Tanggapan to “Yang Miskin yang Dermawan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: