Abiazmi’s Weblog
Just another WordPress.com weblog

Tradisi Mama pada Hari Raya ‘Idul Fitri

Setiap Hari Raya ‘Idul Fitri Mama membiasakan melakukan shalat tasbih pada malam hari takbiran. Setelah shalat ‘Id melaksanakan dzikir dengan memperbanyak tasbih.

Pelaksanaan dzikir dilaksanakan setelah shalat ‘Id di rumah mama bersama sanak keluarga dan para santri mukimin dan jama’ah pengajian mama dari berbagai daerah..

Jama’ah pengajian yang hadir kebanyakan tetangga yang shalat ‘idnya bersama di lingkungan pesantren ditambah dari daerah terdekat di sekitar batujajar. Ada juga dari daerah-daerah tetangga seperti dari kecamatan Cililin, Cihampelas, Babakan Cianjur, Rongga, Cipatik, Citapen, Balakasap, Situwangi, Cibunar, Cihurang, Cikeuyeup, Cicalengka, Mande, Sukaguna, Maroko, dan lain-lain.

Biasanya mereka datang setelah melaksanakan shalat ‘Id di daerahnya, terutama jama’ah mama yang biasa menjadi imam shalat ‘Id atau yang mengurus pelaksanaan shalat ‘Id di daerahnya.

Kebanyakan dari berdatangan dari berbagai daerah dengan berjalan kaki, mengambil jalan yang singkat melalui jalan sungai dengan menggunakan rakit, atau jika tidak “caah” atau banyak air sungai mereka menyebrang dengan cara renang atau melintasi dengan menggunakan tambang.

Acara dzikir itu dimulai jika sekiranya tidak ada lagi yang jauh berdatangan, mama menunggu jama’ah yang jauh takut ketika datang mereka tidak kebagian dzikir. Maka sebelum memulai dzikir jama’ah yang sudah hadir berkumpul bermushafahah, ada yang mengobrol sambil menyantap kueh dan minuman yang telah disediakan oleh santri , ada juga yang melakukan dzikir masing-masing, sebagiannya ada yang membacakan nadoman shalawatan biasanya jama’ah ibu-ibu.

Acara itu dimulai dengan terlebih dahulu tausiah mama secara singkat, dilanjutkan dengan membaca hadharah mendo’akan yang telah meninggal termasuk karuhun atau almarhum keluarga jama’ah. Mama mempersilahkan kepada jama’ah untk menyebutkan saudaranya atau karuhunnya yang akan dido’akan, ketika mama membacakan hadharah terakhir mempersilahkan para jama’ah untuk menyebutkannya.. Hening masing-masing jama’ah mendo’akan masing-masing karuhunnya,.

Apabila telah selesai mama melaksanakan wiridan sebagaimana halnya membacakan ketika “tahlilan” ditambah dengan membanyakan bacaan Tasbih dan diakhiri dengan do’a. Saat mama membacakan do’a dan diamini oleh para jama’ah, diantara mereka tidak sedikit yang mencucurkan air mata, ingat akan dosa dan ingat “nineng” kepada karuhun yang telah meninggal dunia. “Rusras” akan segala kebaikan, perjuangan dan pengorbanannya, apalagi jika mama mendo’anya sambil “dareda” meneteskan air mata .

Doa selesai diahiri dengan membacakan alfatihah bersama-sama.
Mama berdiri diikuti oleh jama’ah berdiri membuat shaf atau barisan sambil membacakan shalawat bermushafahah pertama berrmushafahah kepada mama selanjutnya bergiliran membuat shaf yang memanjang satu sama lain saling bermushafahah dengan saling memohon ma’af diantara jama’ah. Diteruskan dengan acara “Ramah Tamah” makan ketupat dengan sayur shop tulang ditambah tumis dan kerupuk. Untuk minuimnya, ada air hangat, air sirup bahkan ada yang mau cikopi. Utuk “bibilas”nya untuk cuci mulut cau saba atau pisitan dan rambutan, ada juga salak dan menteng, buah-buahan hasil panen dari kebun mama. Mereka juga dilupa mencicipi kue lebaran yang telah disediakan di atas nampan yang besar atau “nyiru”. Mulai dari kue cara bikang, ali agrem, sagon, dan sebagainya. Ada juga yang di”seupan” seperti bugis, lemper, “seupan cau”, dsb nya .

Hari Raya ‘Idul Fitri sangat dinanti-nanti kedatangannya, banyak kenangan yang tak ternilai harganya. Untuk menghadapi hari raya itu penuh persiapan mulai dari mempersiapkan kelapa, ketan, tepung beras, gula merah, gula putih, dan segalanya yang dibutuhkan untuk membuat kue sebagai hidangan untuk tamu dan jama’ah pengajian.
Nampaklah hari raya semakin meriah dan penuh makna berbagi kebahagiaan.

Sebelumnya telah disibukkan dengan berbagai kegiatan, tarawih, tadarus, ngadulag, “nganteuran” para tetanggan dan sanak saudara yang dekat maupun yang jauh yang dapat dijalani dengan jalan kaki, yang tidak terjangkau paling nanti pada hari raya tersebut samasama makan tumis, menerimaan dan pembagian zakat, takbiran dan sebagainya.

Belum Ada Tanggapan to “Tradisi Mama pada Hari Raya ‘Idul Fitri”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: